082193848246

(0422) 22224

SOSOK Kades Pontanakayyang Tajuddin Kuliah RPL Desa di UT Majene, Usia Bukan Halangan Menimba Ilmu

Kepala Desa Pontanakayyang, Kecamatan Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah, Tajuddin membujktikan bahwa kesibukan sebagai kepala desa tidak menyurutkan keinginannya untuk menambah ilmu.

Di usianya ysng sudah menginjak 60 tahun, tidak menejadi penghalang bagi Tajuddin untuk kembali duduk sebagai mahasiswa.

Lahir pada 28 April 1965, Tajuddin menunjukkan bahwa semangat belajar bisa tetap menyala, bahkan ketika sebagian orang seusianya memilih menikmati waktu senggang.

Kalau saya suruh anak-anak sekolah tinggi, masa saya sendiri berhenti belajar,” ujarnya sambil tersenyum.

Dukungan keluarga mengalir penuh, bahkan seluruh aparat desa ikut memberi semangat. Di kantor desa, Tajuddin bukan hanya memimpin rapat, tapi juga kerap terlihat membuka modul kuliah di sela-sela aktivitasnya.

Jalur RPL
Tajuddin tercatat sebagai mahasiswa Universitas Terbuka (UT) Majene melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Desa.

Jalur ini memberinya pengakuan atas pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki selama bertahun-tahun bekerja di pemerintahan desa.

Hasilnya, ia memperoleh pembebasan 49 SKS atau setara 16 mata kuliah.

“Lumayan, rasanya seperti naik motor tapi jalannya menurun,” katanya berseloroh.

Keunikan Tajuddin sebagai mahasiswa terletak pada kebiasaannya yang nyaris tak pernah lepas dari modul.

Diaman pun berada menunggu tamu, jeda rapat, bahkan saat perjalanan dinas modul atau BMP (Buku Materi Pokok) selalu ada di tangannya.

Waktu luang sekecil apa pun dimanfaatkan untuk membaca.

Baginya, isi modul bukan sekadar teori, tetapi bekal nyata dalam menjalankan tugas sebagai kepala desa.

“Ilmu yang saya dapat itu langsung kepakai,” ungkapnya.

Sejak kuliah, Tajuddin merasa lebih percaya diri berbicara di depan umum, baik saat berpidato, memimpin musyawarah desa, maupun menyampaikan program kepada warganya.

Referensi bertambah, cara berpikir lebih sistematis, dan argumen lebih terukur.

Apalagi ia mengambil Program Studi Ilmu Pemerintahan, bidang yang sangat relevan dengan perannya sebagai kepala desa.

Menurut Tajuddin, Universitas Terbuka adalah “rumah” bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan di tengah keterbatasan. Jarak, pekerjaan, kesibukan, hingga waktu yang sempit bukan lagi alasan.

Ia bahkan aktif mengajak warganya untuk kuliah di UT Majene melalui SALUT Kayu Mangiwang, Topoyo, Mamuju Tengah.

“UT ini ramah untuk semua orang,” katanya.

Tidak ada tes masuk, tidak ada Ujian Tengah Semester, masa kuliah singkat delapan minggu per semester, dan skema ujian pun fleksibel.

Namun, yang paling tegas dari Tajuddin adalah pesannya untuk para kepala desa.

“Saya kuliah bukan sekadar cari ijazah. Ini soal memantaskan diri untuk memimpin masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, sudah saatnya kepala desa yang masih lulusan SMA atau Paket C melanjutkan pendidikan. “Tidak ada lagi alasan. Pokoknya, semua kepala desa harus sarjana,” katanya sambil tertawa kecil.

Kisah Tajuddin adalah pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal kata terlambat. Di tangannya, modul bukan sekadar buku, melainkan jendela untuk memimpin desa dengan ilmu, percaya diri, dan masa depan yang lebih terang. (*)

 

 

 

MUH. IQBAL NOOR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts