Kepala Desa Lombong Timur, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Bahtiar. S, S.IP terpilih sebagai wisudawan inspiratif Wisuda Universitas Terbuka Majene Periode II Tahun 2026, yang dilaksanakan di Grand Maleo Hotel and Convention Mamuju, Senin (19/10/2026).
Bahtiar menuturkan, amanah kepala desa masa jabatan diperpanjang yang semula 2017–2023 resmi dikukuhkan dan diperpanjang untuk periode 2025 hingga 2027.
Ketika SK perpanjangan masa jabatan itu turun, ia berpikir masa jabatan bertambah, tanggung jawab makin berat, namun kenapa masa ilmu kades tidak bertambah
“Itulah salah satu dorongan batin saya mengapa saya harus menuntaskan bangku kuliah,” ujar Bahtiar di hadapan para lulusan UT Majene.
Ia menuturkan, keinginannya untuk kuliah berawal pada 2023 lalu.
Saat itu dia menyaksikan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Direktur UT Majene dengan Ketua APDESI di kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD).
Dari pertemuan itulah mata saya terbuka lebar terhadap sebuah program terobosan luar biasa bernama RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) Aparat Desa.
Melalui jalur RPL ini, pengalaman kerja lapangan para kepala desa dihargai menjadi capaian akademik.
“Saya mengumpulkan berkas SK Kepala Desa dan 12 jenis portofolio berupa sertifikat pelatihan dan seminar yang pernah saya ikuti selama 2 tahun terakhir melayani masyarakat.
“Luar biasanya, seluruh rekam jejak itu dinilai dan dikonversi oleh Universitas Terbuka menjadi pengakuan mata kuliah, sehingga saya langsung memperoleh pengakuan kredit sebanyak 50 SKS atau setara dengan pembebasan 17 mata kuliah pada waktu itu,” terang Bahtiar.
Menurutnya, orogram seperti ini jujur belum pernah ada di kampus lain, dan hanya ada di Universitas Terbuka Majene.
Bukan hanya untuk kepala desa dan sekdes yang mendapat pengakuan hingga 50 SKS, tetapi juga terbuka luas bagi rekan-rekan Ketua BPD, Pendamping Desa, Kaur, hingga Kasi yang bisa memperoleh pengakuan sekitar 35 SKS atau dibebaskan hingga 12 mata kuliah.

“Saat sosialisasi dan promosi (sosprom) dahulu, pihak UT Majene menjanjikan bahwa kami bisa lulus tepat waktu dalam 5 semester atau hanya 2,5 tahun saja. Dan hari ini, berkat ketekunan, disiplin diri, serta izin Allah SWT, janji itu terbukti tunai di atas panggung wisuda ini,” ujarnya menambahkan.
Ia maish mengenang pertama kali menempuh perkuliahan di UT Majene, harus ikut kegiatan OSMB (Orientasi Mahasiswa Baru) dan PKBJJ (Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh).
Ia mengaku kepalanya pusing tujuh keliling.
Maklum, faktor usia dan pengetahuan IT kami yang sangat minim alias “gaptek”. Pemateri berbicara tentang LMS, e-learning, unggah tugas, dan dashboard UT.
“Sementara kami yang biasa pegang cangkul dan stempel desa ini cuma bisa saling pandang,” katanya.
Untunglah, UT Majene menyediakan wadah penyelamat, yaitu Grup WhatsApp “Pembimbingan RPL Desa Sulbar”
Grup para mahasiswa bertanya apa saja: mulai dari cara cetak billing registrasi, mencari kartu ujian (KTPU), sampai mengecek daftar nilai.
Petugas UT kata dia, melayani dengan sangat ramah dan respon cepat.
Bahkan saking bingungnya belajar sistem daring, saya pernah sampai “mencegat” staf UT Majene Bernama Akbar, saat beliau akan melintas di daerah kami untuk sosprom, lalu diajak singgah ke rumah.
Di halaman teras, Akbar mengajari Bahtiar cara aktivasi tutorial online dan bagaimana cara membalas forum diskusi di e-learning UT. Pelayanan seperti luar biasa inilah yang membuat kami yang tua-tua ini tidak patah arang di tengah jalan.
“Puncak cerita lucunya terjadi saat kami pertama kali harus menghadapi Ujian Online (UO). Menghadapi layar komputer itu tegangnya melebihi rapat koordinasi kecamatan! Tangan kami kaku memegang mouse. Mau mengarahkan kursor dan meng-klik lingkaran pilihan ganda huruf A, B, C, atau D saja susahnya bukan main, kursornya lari ke mana-mana,” terangnya.
Pendidikan di UT Majene lanjut dia, membuka cakrawala berpikir.
Menjadi kepala desa sekarang tidak cukup hanya mengandalkan intuisi atau otot; diperlukan pendekatan kebijakan yang sistematis, perencanaan pembangunan yang partisipatif, dan transparansi yang berkeadilan.
“Oleh karena itu, berkaca dari apa yang telah kami buktikan hari ini, saya ingin menyerukan dari atas podium ini Semua Kepala Desa dan Aparat Desa di Sulawesi Barat harus sarjana,” tegasnya.
Jangan pernah malu dengan usia, jangan pernah takut dengan komputer dan teknologi. Universitas Terbuka telah membuktikan dan menyediakan karpet merah melalui program RPL Aparat Desa. (*)